Balikpapan(28/8),Nansarunai.com – Musim kemarau yang berlangsung di Kalimantan Timur mulai menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Cuaca panas, kondisi lingkungan yang kering, serta meningkatnya paparan debu membuat gangguan saluran pernapasan perlu diwaspadai masyarakat.
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di provinsi tersebut. Sejak Januari 2026, tercatat sebanyak 66.468 kasus ISPA di Kota Balikpapan.
Di bawah Balikpapan, jumlah kasus tercatat di Samarinda sebanyak 48.230 kasus, Kutai Kartanegara 29.153 kasus, dan Kutai Barat 7.562 kasus. Data tersebut menunjukkan persoalan ISPA masih menjadi salah satu perhatian kesehatan masyarakat di tengah kondisi cuaca yang kering.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin menjelaskan, kondisi kemarau membuat debu lebih mudah beterbangan. Ditambah angin yang cukup kencang, partikel debu dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Secara umum, Dinkes Kaltim menyebut terjadi peningkatan kasus ISPA sekitar 10 hingga 20 persen di sejumlah daerah. Namun, kenaikan tersebut masih dinilai berada dalam pola fluktuasi musiman.
Kondisi ini semakin perlu diperhatikan seiring adanya potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kaltim. Pemerintah provinsi sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait kekeringan dan karhutla, setelah ratusan kejadian kebakaran tercatat sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi udara, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker, khususnya bagi pengendara sepeda motor, dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan debu.
Selain itu, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara dan suhu sedang kurang bersahabat, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pada saluran pernapasan.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan menjadi penting agar peningkatan gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas.






